All about Animals, Innovation, Law, Management, and Soccer: Manajemen dan Seni Mengkritik

IWA

Manajemen dan Seni Mengkritik

Quote tersebut mengandung makna yang luar biasa. Pengkritik pada dasarnya adalah menilai apa yang menjadi kelemahan kita dengan harapan diperbaiki di kemudian hari. Ada istilah kritik membangun dan ada juga kritik yang menjatuhkan. Tapi, kedua memiliki kesamaan, yaitu menilai apa yang menjadi kelemahan kita, cuma caranya yang beda. Kalau kritik yang membangun, dilakukan dengan cara yang santun, beretika, dan ada ilmunya. Dengan kata lain, proses mengkritik (bukan mengritik lho ya krn tdk baku) itu ada manajemennya, yaitu proses, taktik, dan strategi untuk menilai kelemahan sesuatu dengan santun, jelas fakta dan alasannya, demi mencapai tujuan yang lebih baik, dengan memperhatikan hubungan baik dengan pihak yang dikritik. 

Tentunya harus dibedakan orang yang berpikir kritis dengan mengeluh. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka kemampuan berpikir kritisnya semakin tinggi, dengan harapan kebiasaan mengeluhnya semakin rendah hehe.. Tapi mungkin bisa diperjelas lagi, bahwa kritik yang baik adalah kritik yang membangun, sedangkan kritik yang menjatuhkan itu tidak jauh beda dengan pengeluh, karena sama-sama merupakan perbuatan yang kurang terpuji. Kritik yang menjatuhkan niatnya memang ingin membuat lawan hancur karirnya dan semakin senang jika kritiknya diakui banyak orang, walaupun itu cenderung menghasut.

Terkadang kritik dilakukan seseorang untuk menutupi kelemahan (aib) diri sendiri dengan menyerang kelemahan oranglain sampai terpojok. Dengan kata lain, kritik sebagai pertahanan diri. Biasanya jenis kritik kayak gini sering ditemukan saat debat Pilkada hehe... Biasanya mereka berusaha membangun citra diri sebaik mungkin dan menutupi kelemahan diri, serta menjatuhkan citra pihak lawan dan menyerang kelemahan oranglain. Itu yang dinamakan kritik di dunia politik. Mana ada yang lagi kampanye Pilkada menjelek-jelekkan diri sendiri dan memuji lawannya? Yang ada juga memuji diri sendiri (bahkan berlebihan) dan mencari aib lawannya supaya di
ketahui publik.

Mengkritik itu ada manajemennya, yaitu pengaturan sedemikian rupa sehingga hakikat n tujuan dari kritik itu tercapai dan dilakukan di saat yg tepat tanpa harus ada yg tersinggung. Sedangkan kritik harus ada seninya, ada semacam dinamikanya, shg terdengar spt sebuah melodi lagu yg indah. Tentunya kritik akn enak didengar jika cerdas isinya, penggunaan kata2nya beretika, serta penyampaiannya yg santun, shg akn mendapatkan simpati org bnyk, trmsk pihak yg dikritik. Seni mengkritik harus dilakukan dengan kepala dingin, karena jika dilakukan secara emosional, yang dikhawatirkan munculnya sikap yang dilarang hukum, seperti pencemaran nama baik. Alangkah lebih baik, dalam mengkritik, apapun medianya, melalui email, lisan, medsos, dsb, dilakukan dengan cara yang bijak dan beretika. Baiknya sebelum mengkritik diawali dengan pujian di awal, kritik yang membangun di tengah, serta solusi di akhir. Dijamin pihak yang dikritik pun merasa dihargai, respek pada kita, bahkan mungkin saja memberi hadiah kepada kita. Tapi, jika dilakukan sebaliknya, akan timbul sakit hati dan dendam, bahkan melakukan serangan balik yang lebih nyelekit lagi. Ujung-ujungnya berurusan dengan aparat hukum, tentunya hal tersebut harus dihindari. Kritik sbg seni dpt disimpulkan sbg attitude dari si pengkritiknya.

Di dunia kerja dan bisnis, seni mengkritik dikenal dengan istilah feedback (umpan balik). Di dunia kerja, feedback dibutuhkan dalam hubungan karyawan dan bos perusahaan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, karyawan, bahkan atasannya sendiri, demi mencapai tujuan yang lebih baik. Seringkali kritik berupa aspirasi sering tidak dianggap, sehingga karyawan menyampaikan aspirasi dengan cara mogok kerja atau demo di jalan, ini tentunya akan menimbulkan masalah lain, seperti terganggunya operasional perusahaan, kekurangpercayaan stakeholder, kemacetan lalu lintas, dan mengganggu ketertiban umum. Hal tersebut tentunya harus dihindari.

Sedangkan di dunia bisnis, feedback dibutuhkan untuk dalam hubungan pembeli dan penjual, supaya tidak ada pihak yang dirugikan ke depannya. Pembeli akan mengkritik jika produk dan jasa yang dijual tidak sesuai dengan yang diucapkan penjual dan tidak sesuai keinginan pembeli. Penjual berhak mengkritik pembeli jika pembayaran atas produk dan jasa tidak sesuai dengan yang disepakati. Pada dasarnya penjual hanya ingin mendapatkan feedback yang positif, tp tentu sj itu hal yg mustahil, pasti ada saja kelemahan yang harus segera menjadi evsluasi. Jika semuanya berpatokan pada etika bisnis, maka kritik tidak akan terjadi.

Kedudukan pembeli dan penjual harus seimbang. Tidak ada istilah pembeli yang diistimewakan. Misal, saat mengantri, maka yang lebih awal dapat nomor antrian itulah yang berhak dilayani. Bukan karena pejabat, datang telat pun dilayani lebih awal dari mereka yang sudah mengantri terlebih dulu. Intinya, kalau ingin dihargai, siapapun itu, maka hargai oranglain terlebih dahulu. Itu yang dinamakan sikap respek. Ketika sikap respek sudah menjadi kebiasaan, maka tunggu saja akan ada respek yang lebih besar menanti, yaitu apresiasi, di mana ini terjadi ketika orang sudah mengenal akrab diri kita (bhkn mgkn spt ada ikatan batin), sudah mengenal prestasi+kebaikan kita, serta mengakui karya kita. Jadi dapat disimpulkan respek itu apresiasi versi kecilnya/pembukanya dan apresiasi merupakan bentuk respek puncaknya (yang tertinggi).

Sumber: CERN ombuds

Silakan mampir juga ke blog saya yg kedua (ttg kesehatan & kemanusiaan, full text english) dan ketiga (ttg masalah & solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:
Blog 2: healthyhumanityvicagi.blogspot.com
Blog 3: listrikvic.blogspot.com



No comments:

Post a Comment

1. Silakan berkomentar secara bijak
2. Terbuka terhadap masukan untuk perbaikan blog ini
3. Niatkan blogwalking dan saling follow blog sebagai sarana silaturahim dan berbagi ilmu/kebaikan yang paling simpel. Semoga berkah, Aamiin :)😇
4. Ingat, silaturahim memperpanjang umur...blog ;)😜

Disrupsi Digital dan Inovasi Era Kenormalan Baru

Disrupsi Digital Pandemi Covid-19 yang terjadi berbulan-bulan dan menimpa hampir seluruh negara di dunia membuat kacau kondisi ekonomi se...