All about Animals, Innovation, Law, Management, and Soccer: November 2019

IWA

Manajemen Mitigasi Gempa Bumi di Kota Cimahi dan Bandung

Seperti kita ketahui bahwa di daerah Lembang terdapat Patahan Lembang yang masih aktif, hanya sedang "tertidur" saja, seperti menyimpan kekuatan, dan sewaktu-waktu bisa "bangun" dengan mengeluarkan kekuatan (gempa bumi yang dahsyat). Tentunya, bukan hanya warga Lembang saja yang waspada, tapi juga warga Kota Cimahi dan Bandung, mengingat panjangnya Patahan Lembang dan efek merusak gempa bumi Lembang. Ini yang terkadang kurang disadari, mengingat banyak warga Kota Cimahi dan Bandung memperkirakan bahwa jika gempa bumi Lembang terjadi, hanya membahayakan warga yang tinggal di Lembang saja, jelas itu keliru.

Berdasarkan hasil penelitian Mudrik R. Daryono, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mudrik R Daryono, siklus gempa bumi Sesar Lembang bisa berulang terjadi setiap 170-670 tahun. Sementara, dalam kurun waktu 560 tahun terakhir, belum pernah terjadi gempa bumi lagi di jalur Sesar Lembang­čś▒ (sumber: Koran Pikiran Rakyat 15 Maret 2019).

Tentunya, warga sekitar tidak boleh panik, namun tetap waspada dan selalu memantau informasi tentang kegempaan di daerahnya, dimulai dari yang paling dasar, mengetahui pemetaan wilayah rawan gempa di daerahnya.

A. Zona merah Kota Cimahi
Pemerintah dan warga Kota Cimahi sudah selayaknya mewaspadai pergerakan Sesar Lembang yang saat ini mulai aktif, sewaktu-waktu akan bangkit, dan mengakibatkan gempa bumi besar. Memang pusatnya ada di Lembang, tapi menurut Analis Mitigasi Bencana Seksi Kebencanaan dan Kesiapsiagaaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Rohmat, semua wilayah Kota Cimahi termasuk zona merah bencana Sesar Lembang­čś▒. Wilayah tersebut meliputi:
1. Wilayah utara Cimahi -> Citeureup, Cipageran, dan Cihanjuang hanya berjarak 3 km dengan garis Sesar Lembang.
2. Jarak gedung perkantoran Pemerintah Kota Cimahi dengan garis Sesar Lembang hanya berjarak sekitar 6 km
3. Wilayah selatan Cimahi dan bisa disebut ujung terjauh Kota Cimahi, yaitu daerah Melong Asih hanya berjarak 12 km dengan garis Sesar Lembang

Yang perlu diperhatikan adalah karakter pergerakan Sesar Lembang dikhawatirkan mengakibatkan kerusakan besar dan korban jiwa di Kota Cimahi. Hal ini diakibatkan pergerakan di garis sesar dekat Kota Cimahi bisa 2 kali lebih kuat dibandingkan yang di urat sesarnya. Jadi, sifatnya bukan likuefaksi (pencairan tanah), karena Cimahi ini karakter tanahnya bekas endapan danau Bandung purba. (Sumber: Koran Pikiran Rakyat tanggal 16 Oktober 2019).


B. Zona merah Kota Bandung
Kota Bandung, khususnya Bandung bagian utara dan barat (Kabupaten Bandung Barat) juga tidak luput dari zona merah Sesar Lembang yang membentang panjang 29 km, meliputi Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, Ngamprah, dan Padalarang (sumber: jabar.tribunnews.com). Walaupun demikian, pada dasarnya, seluruh warga di wilayah Kota Bandung dan sekitarnya wajib mewaspadai dampak merusak gempa bumi besar (disinyalir sekitar 6,5-7 SR) akibat Sesar Lembang yang dikhawatirkan dapat menjangkau Kota Bandung dan sekitarnya­čś▒.

C. Manajemen mitigasi gempa bumi di Kota Cimahi dan Bandung 
Intinya tidak boleh panik, tapi harus selalu waspada, berdoa, tahu ilmunya, dan selalu memantau informasi dari sumber yang terpercaya, baik dari media cetak, televisi, media sosial, maupun langsung dari pihak berwenang seperti BPBD setempat. Manajemen mitigasi gempa bumi dibagi menjadi tiga: sebelum, sesaat, dan setelah gempa bumi.
1. Sebelum gempa bumi
- Pendidikan mitigasi gempa bumi, terutama di sekolah formal
Sejauh ini, baik di Kota Cimahi maupun Bandung, pendidikan tersebut belum masuk kurikulum pendidikan, sehingga sifatnya hanya sukarela saja, seperti yang diadakan BPBD, itupun lebih menyasar kepada warga yang paling dekat dengan potensi gempa bumi. Atau bisa juga kitanya yang berinisiatif mengajukan permohonan resmi (proposal) ke BPBD setempat
- Sosialisasi mitigasi gempa bumi di kantor dan gedung bertingkat
Sejauh ini, baik di Kota Cimahi maupun Bandung, sudah diterapkan dengan menempel poster manajemen mitigasi bencana gempa bumi di kantor dan gedung yang dianggap vital, terutama rumah sakit. Tapi, untuk simulasinya memang dirasa masih kurang, terbatas internal saja
- Rumah tahan gempa
Sejauh ini, pemerintah setempat belum mewajibkan setiap rumah yang dibangun harus anti gempa, sehingga harus ada inisiatif warganya untuk mencari informasi seputar rumah anti gempa. Rumah anti gempa sudah mulai dibangun di Lembang, itupun inisiatif warga. Bentuknya adalah rumah kayu. Tiang utama rumah yang menyokong atap dengan sistem purus (poros) dan catokan (penjepit), yang membuat rumah seperti pendulum dan bersifat elasti saat menerima goncangan seperti gempa. Kayu yang digunakan harus berkualitas dan anti rayap seperti kayu sengon. Lama pengerjaannya sekitar 6 bulan. Untuk harga rumahnya, saya belum dapat harga pastinya, namun diperkirakan sekitar Rp. 50 juta ke atas. Namun, harus diperhatikan, ada perawatan berkala, setidaknya tiap 10 tahun.

Rumah Tahan Gempa di Lembang. Foto: Yudha Maulana

- Mengetahui jalur evakuasi di gedung bertingkat, biasanya ditempel di dinding gedung setempat dalam bentuk poster
- Pemasangan titik dan jalur evakuasi, jujur, saya belum melihatnya di tempat umum yang strategis
- Penyediaan kotak P3K dan alat pemadam kebakaran, sudah menjadi SOP di setiap tempat yang vital
- Mengetahui nomor telepon penting terkait dengan potensi gempa bumi di Kota Cimahi dan Bandung:
a. BPBD Kota Cimahi: (022) 20661899
b. BPBD Kabupaten Bandung: (022) 85872591
c. BPBD Provinsi Jawa Barat: (022) 7313267
d. Palang Merah Indonesia Siaga P3K dan Pelayanan Bencana: (022) 4213858
Uniknya, Kota Bandung sendiri belum memiliki BPBD dengan alasan tidak terlalu mendesak. Padahal, Kota Bandung juga rawan bencana, terutama banjir dan gempa bumi. Jadi, sementara ya ikut ke BPBD Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat
e. Ambulans: 118
f. Call Center PLN: 123
g. Kepolisian: 110
h. Nomor Tunggal Kedaruratan di Indonesia: 112
i. Pemadam Kebakaran: 113
j. Posko Bencana Alam: 129
k. SAR (Search And Rescue): 115

(Sumber: https://hai.grid.id & Koran Pikiran Rakyat tanggal 23 Oktober 2019)

Klik Gambar agar Lebih Jelas Tulisannya. Sumber: BMKG


2. Saat gempa bumi
Klik Gambar agar Lebih Jelas Tulisannya. Sumber: BMKG
- Saat di gedung bertingkat, jangan gunakan lift dan tangga berjalan
- Jangan meninggalkan gedung saat gempa terjadi, segera cari perlindungan, misal berlindung di bawah meja. Jika tidak ada perlindungan, segera jongkok dan lindungi kepala anda
- Berlari maupun berjalan di gedung bertingkat saat terjadinya gempa bisa meningkatkan risiko luka dan cedera
- Hindari benda-benda yang mudah jatuh dan pecah
- Jika anda berada di tangga, duduklah sebentar dan berpegangan (sumber: https://www. cnn.indonesia.com)
- Fokus pada jalur evakuasi
- Bagi wanita, jangan gunakan sepatu berhak tinggi
- Segera mencari titik kumpul yang aman sambil menunggu instruksi selanjutnya dari pihak berwenang

3. Setelah gempa bumi

Klik Gambar agar Lebih Jelas Tulisannya. Sumber: BMKG
- Gunakan selalu jalur evakuasi
- Dalam kondisi panik, seringkali korban gempa bumi akan sibuk dengan keselamatan diri sendiri dan keluarganya, tapi diusahakan untuk peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar, tentunya sesuai dengan kesanggupan
- Waspada gempa susulan
- Jika kebingungan, cari titik kumpul yang aman sambil menunggu instruksi selanjutnya dari pihak yang berwenang. Dengan berkumpul bersama orang senasib dan diarahkan petugas yang berwenang tentunya rasa panik dan stres dapat diminimalisir. Dengan catatan, jangan sampai petugas yang berwenang malah ikut-ikutan panik­čśü.

(Sumber: https://nasional.kompas.com)

D. Saran tentang manajemen mitigasi gempa bumi ke depannya
- Manajemen mitigasi gempa bumi di Kota Cimahi dan Bandung masih belum menyeluruh, masih terbatas di zona terdekat rawan gempa, seperti di Lembang (Kabupaten Bandung Barat). Lembang seperti dijadikan percontohan, tapi sayangnya belum diikuti daerah lain di Kota Cimahi dan Bandung
- Aturan hukum tentang manajemen mitigasi gempa bumi sebenarnya sudah diatur secara rinci dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Sayangnya, implementasinya belum maksimal, kemungkinan memang belum diprioritaskan dan kurang anggarannya. Untuk itu, memang harus diperhatikan anggarannya. Kalau anggarannya ok, BPBD  setempat akan lebih giat melakukan sosialisasi dan simulasi mitigasi gempa bumi
- Kurikulum pendidikan di Kota Cimahi dan Bandung harus menambahkan dan mewajibkan manajemen mitigasi bencana alam, khususnya gempa bumi, dimulai dari sekolah formal sampai perguruan tinggi
- Sosialisasi manajemen mitigasi bencana gempa bumi juga kembali ditingkatkan di tempat-tempat strategis, seperti rumah sakit, mal, kantor pemkot, dan sebagainya. Tidak sebatas membuat poster yang ditempel di dinding, tapi ada simulasi yang melibatkan internal maupun warga sekitar
- Baiknya memang manajemen mitigasi gempa bumi selalu diingatkan (oleh pihak berwenang) sebagai bagian dari ilmu kehidupan warga setempat, sehingga warga setempat akan lebih aware
- Penggunaan teknologi Virtual Reality sebagai bagian simulasi mitigasi gempa bumi sangat baik sebagai edukasi juga, terutama menyasar generasi milenial.

Demikian artikel saya, silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:

Disrupsi Digital dan Inovasi Era Kenormalan Baru

Disrupsi Digital Pandemi Covid-19 yang terjadi berbulan-bulan dan menimpa hampir seluruh negara di dunia membuat kacau kondisi ekonomi se...