All about Animals, Innovation, Law, Management, and Soccer: Manajemen Mitigasi Gempa Bumi di Kota Cimahi dan Bandung

IWA

Manajemen Mitigasi Gempa Bumi di Kota Cimahi dan Bandung

Seperti kita ketahui bahwa di daerah Lembang terdapat Patahan Lembang yang masih aktif, hanya sedang "tertidur" saja, seperti menyimpan kekuatan, dan sewaktu-waktu bisa "bangun" dengan mengeluarkan kekuatan (gempa bumi yang dahsyat). Tentunya, bukan hanya warga Lembang saja yang waspada, tapi juga warga Kota Cimahi dan Bandung, mengingat panjangnya Patahan Lembang dan efek merusak gempa bumi Lembang. Ini yang terkadang kurang disadari, mengingat banyak warga Kota Cimahi dan Bandung memperkirakan bahwa jika gempa bumi Lembang terjadi, hanya membahayakan warga yang tinggal di Lembang saja, jelas itu keliru.

Berdasarkan hasil penelitian Mudrik R. Daryono, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mudrik R Daryono, siklus gempa bumi Sesar Lembang bisa berulang terjadi setiap 170-670 tahun. Sementara, dalam kurun waktu 560 tahun terakhir, belum pernah terjadi gempa bumi lagi di jalur Sesar Lembang😱 (sumber: Koran Pikiran Rakyat 15 Maret 2019).

Tentunya, warga sekitar tidak boleh panik, namun tetap waspada dan selalu memantau informasi tentang kegempaan di daerahnya, dimulai dari yang paling dasar, mengetahui pemetaan wilayah rawan gempa di daerahnya.

A. Zona merah Kota Cimahi
Pemerintah dan warga Kota Cimahi sudah selayaknya mewaspadai pergerakan Sesar Lembang yang saat ini mulai aktif, sewaktu-waktu akan bangkit, dan mengakibatkan gempa bumi besar. Memang pusatnya ada di Lembang, tapi menurut Analis Mitigasi Bencana Seksi Kebencanaan dan Kesiapsiagaaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Rohmat, semua wilayah Kota Cimahi termasuk zona merah bencana Sesar Lembang😱. Wilayah tersebut meliputi:
1. Wilayah utara Cimahi -> Citeureup, Cipageran, dan Cihanjuang hanya berjarak 3 km dengan garis Sesar Lembang.
2. Jarak gedung perkantoran Pemerintah Kota Cimahi dengan garis Sesar Lembang hanya berjarak sekitar 6 km
3. Wilayah selatan Cimahi dan bisa disebut ujung terjauh Kota Cimahi, yaitu daerah Melong Asih hanya berjarak 12 km dengan garis Sesar Lembang

Yang perlu diperhatikan adalah karakter pergerakan Sesar Lembang dikhawatirkan mengakibatkan kerusakan besar dan korban jiwa di Kota Cimahi. Hal ini diakibatkan pergerakan di garis sesar dekat Kota Cimahi bisa 2 kali lebih kuat dibandingkan yang di urat sesarnya. Jadi, sifatnya bukan likuefaksi (pencairan tanah), karena Cimahi ini karakter tanahnya bekas endapan danau Bandung purba. (Sumber: Koran Pikiran Rakyat tanggal 16 Oktober 2019).


B. Zona merah Kota Bandung
Kota Bandung, khususnya Bandung bagian utara dan barat (Kabupaten Bandung Barat) juga tidak luput dari zona merah Sesar Lembang yang membentang panjang 29 km, meliputi Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, Ngamprah, dan Padalarang (sumber: jabar.tribunnews.com). Walaupun demikian, pada dasarnya, seluruh warga di wilayah Kota Bandung dan sekitarnya wajib mewaspadai dampak merusak gempa bumi besar (disinyalir sekitar 6,5-7 SR) akibat Sesar Lembang yang dikhawatirkan dapat menjangkau Kota Bandung dan sekitarnya😱.

C. Manajemen mitigasi gempa bumi di Kota Cimahi dan Bandung 
Intinya tidak boleh panik, tapi harus selalu waspada, berdoa, tahu ilmunya, dan selalu memantau informasi dari sumber yang terpercaya, baik dari media cetak, televisi, media sosial, maupun langsung dari pihak berwenang seperti BPBD setempat. Manajemen mitigasi gempa bumi dibagi menjadi tiga: sebelum, sesaat, dan setelah gempa bumi.
1. Sebelum gempa bumi
- Pendidikan mitigasi gempa bumi, terutama di sekolah formal
Sejauh ini, baik di Kota Cimahi maupun Bandung, pendidikan tersebut belum masuk kurikulum pendidikan, sehingga sifatnya hanya sukarela saja, seperti yang diadakan BPBD, itupun lebih menyasar kepada warga yang paling dekat dengan potensi gempa bumi. Atau bisa juga kitanya yang berinisiatif mengajukan permohonan resmi (proposal) ke BPBD setempat
- Sosialisasi mitigasi gempa bumi di kantor dan gedung bertingkat
Sejauh ini, baik di Kota Cimahi maupun Bandung, sudah diterapkan dengan menempel poster manajemen mitigasi bencana gempa bumi di kantor dan gedung yang dianggap vital, terutama rumah sakit. Tapi, untuk simulasinya memang dirasa masih kurang, terbatas internal saja
- Rumah tahan gempa
Sejauh ini, pemerintah setempat belum mewajibkan setiap rumah yang dibangun harus anti gempa, sehingga harus ada inisiatif warganya untuk mencari informasi seputar rumah anti gempa. Rumah anti gempa sudah mulai dibangun di Lembang, itupun inisiatif warga. Bentuknya adalah rumah kayu. Tiang utama rumah yang menyokong atap dengan sistem purus (poros) dan catokan (penjepit), yang membuat rumah seperti pendulum dan bersifat elasti saat menerima goncangan seperti gempa. Kayu yang digunakan harus berkualitas dan anti rayap seperti kayu sengon. Lama pengerjaannya sekitar 6 bulan. Untuk harga rumahnya, saya belum dapat harga pastinya, namun diperkirakan sekitar Rp. 50 juta ke atas. Namun, harus diperhatikan, ada perawatan berkala, setidaknya tiap 10 tahun.

Rumah Tahan Gempa di Lembang. Foto: Yudha Maulana

- Mengetahui jalur evakuasi di gedung bertingkat, biasanya ditempel di dinding gedung setempat dalam bentuk poster
- Pemasangan titik dan jalur evakuasi, jujur, saya belum melihatnya di tempat umum yang strategis
- Penyediaan kotak P3K dan alat pemadam kebakaran, sudah menjadi SOP di setiap tempat yang vital
- Mengetahui nomor telepon penting terkait dengan potensi gempa bumi di Kota Cimahi dan Bandung:
a. BPBD Kota Cimahi: (022) 20661899
b. BPBD Kabupaten Bandung: (022) 85872591
c. BPBD Provinsi Jawa Barat: (022) 7313267
d. Palang Merah Indonesia Siaga P3K dan Pelayanan Bencana: (022) 4213858
Uniknya, Kota Bandung sendiri belum memiliki BPBD dengan alasan tidak terlalu mendesak. Padahal, Kota Bandung juga rawan bencana, terutama banjir dan gempa bumi. Jadi, sementara ya ikut ke BPBD Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat
e. Ambulans: 118
f. Call Center PLN: 123
g. Kepolisian: 110
h. Nomor Tunggal Kedaruratan di Indonesia: 112
i. Pemadam Kebakaran: 113
j. Posko Bencana Alam: 129
k. SAR (Search And Rescue): 115

(Sumber: https://hai.grid.id & Koran Pikiran Rakyat tanggal 23 Oktober 2019)

Klik Gambar agar Lebih Jelas Tulisannya. Sumber: BMKG


2. Saat gempa bumi
Klik Gambar agar Lebih Jelas Tulisannya. Sumber: BMKG
- Saat di gedung bertingkat, jangan gunakan lift dan tangga berjalan
- Jangan meninggalkan gedung saat gempa terjadi, segera cari perlindungan, misal berlindung di bawah meja. Jika tidak ada perlindungan, segera jongkok dan lindungi kepala anda
- Berlari maupun berjalan di gedung bertingkat saat terjadinya gempa bisa meningkatkan risiko luka dan cedera
- Hindari benda-benda yang mudah jatuh dan pecah
- Jika anda berada di tangga, duduklah sebentar dan berpegangan (sumber: https://www. cnn.indonesia.com)
- Fokus pada jalur evakuasi
- Bagi wanita, jangan gunakan sepatu berhak tinggi
- Segera mencari titik kumpul yang aman sambil menunggu instruksi selanjutnya dari pihak berwenang

3. Setelah gempa bumi

Klik Gambar agar Lebih Jelas Tulisannya. Sumber: BMKG
- Gunakan selalu jalur evakuasi
- Dalam kondisi panik, seringkali korban gempa bumi akan sibuk dengan keselamatan diri sendiri dan keluarganya, tapi diusahakan untuk peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar, tentunya sesuai dengan kesanggupan
- Waspada gempa susulan
- Jika kebingungan, cari titik kumpul yang aman sambil menunggu instruksi selanjutnya dari pihak yang berwenang. Dengan berkumpul bersama orang senasib dan diarahkan petugas yang berwenang tentunya rasa panik dan stres dapat diminimalisir. Dengan catatan, jangan sampai petugas yang berwenang malah ikut-ikutan panik😁.

(Sumber: https://nasional.kompas.com)

D. Saran tentang manajemen mitigasi gempa bumi ke depannya
- Manajemen mitigasi gempa bumi di Kota Cimahi dan Bandung masih belum menyeluruh, masih terbatas di zona terdekat rawan gempa, seperti di Lembang (Kabupaten Bandung Barat). Lembang seperti dijadikan percontohan, tapi sayangnya belum diikuti daerah lain di Kota Cimahi dan Bandung
- Aturan hukum tentang manajemen mitigasi gempa bumi sebenarnya sudah diatur secara rinci dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Sayangnya, implementasinya belum maksimal, kemungkinan memang belum diprioritaskan dan kurang anggarannya. Untuk itu, memang harus diperhatikan anggarannya. Kalau anggarannya ok, BPBD  setempat akan lebih giat melakukan sosialisasi dan simulasi mitigasi gempa bumi
- Kurikulum pendidikan di Kota Cimahi dan Bandung harus menambahkan dan mewajibkan manajemen mitigasi bencana alam, khususnya gempa bumi, dimulai dari sekolah formal sampai perguruan tinggi
- Sosialisasi manajemen mitigasi bencana gempa bumi juga kembali ditingkatkan di tempat-tempat strategis, seperti rumah sakit, mal, kantor pemkot, dan sebagainya. Tidak sebatas membuat poster yang ditempel di dinding, tapi ada simulasi yang melibatkan internal maupun warga sekitar
- Baiknya memang manajemen mitigasi gempa bumi selalu diingatkan (oleh pihak berwenang) sebagai bagian dari ilmu kehidupan warga setempat, sehingga warga setempat akan lebih aware
- Penggunaan teknologi Virtual Reality sebagai bagian simulasi mitigasi gempa bumi sangat baik sebagai edukasi juga, terutama menyasar generasi milenial.

Demikian artikel saya, silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:

54 comments:

  1. Artikel yang bagus dan mengedukasi. Saya tau lembang rawan gempa (sudah lama tidak gempa), tapi saya baru tau jika jangkauan gempa bisa sampai kota Cimahi dan Bandung. Dan ini kurang disosialisasi pihak berwenang berikut mitigasinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasi & respek untuk komen pertama. Selama ini, warga Cimahi & Bandung masih kurang menyadari potensi & daya merusak gempa Lembang. Mereka taunya sudah saja daerah Lembang yang berada di zona merah. Padahal, tidak seperti itu. Semoga ke depannya edukasi & mitigasi gempa bumi lebih digalakkan lagi

      Delete
  2. purata dalam 10 tahun berapa kali kedua-dua kota ini mengalami gempa bumi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gempa bumi kecil pernah beberapa kali, tapi itu pusatnya di kota lain. Tapi, gempa bumi besar yang berpusat di Lembang belum terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Makanya agak was-was. Ditambah ada kajian ilmiah juga, walau waktu pastinya hanya Allah SWT yang tahu, ilmuwan hanya bisa memprediksi sepertinya halnya komentator bola. Thx

      Delete
  3. Infonya penting enggak cuma buat masyarakat di sekitar daerah rawan. Tapi juga buat masyarakat umum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, info ini juga bisa untuk seluruh daerah rawan gempa bumi. Yang membedakan mungkin jalur evakuasi. Dan untuk daerah rawan tsunami perlu ada info tambahan, karena daerah yang dibahas ini jauh dari tsunami. Thx

      Delete
  4. kota Pinrang kampung saya juga sering mengalami gempa pak dan setia tiga puluh tahun gempa besarnya pernah tahun 60 an lalu 90 an

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ada prediksinya juga, berarti gempa berikutnya sekitar tahun 2020-an... Semoga saja tidak terjadi dan kita semua selalu diberikan keselamatan dan keberkahan. Tapi tetap harus waspada dan mengetahui menajemen mitigasinya. Thx

      Delete
  5. Jujur, saya juga masih belum dapat juga sih mengenai Sosialisasi mitigasi gempa bumi, kayaknya perlu ya memang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi setidaknya tiap daerah ada rawan bencana tertentu. Misal, ada yang rawan gempa, rawan gempa+tsunami, rawan banjir dan longsor, tentunya manajemen mitigasi bencananya berbeda, tergantung geografis juga. Saya rasa pemerintah setempat harus peka. Tapi semoga di daerah anda memang aman dari segala bencana. Thx

      Delete
  6. di daerah saya, anak-anak SD tiap hari nyanyi lagu tentang apa yang harus dilakukan kalau ada gempa bumi. ini mungkin bagian sosialisasi juga ya

    saya baru tahu kota Cimahi keren juga soal gempa.apalagi Jabar rawan gempa ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus itu, sudah ada edukasi sejak dini. Mungkin inisiatif & inovasi dari guru setempat, mengingat belum masuk kurikulum juga. Jelas itu bentuk sosialisasi juga. Itu daerah mana ya? Jabar ga hanya patahan Lembang saja, ada juga sesar Bribis menyasar Jakarta, sesar Cimandiri menyasar Sukabumi, sesar Opak menyasar Yogya, dan masih banyak lagi. Thx sudah sharing

      Delete
    2. Anak saya kls 1 SD di Banjarmasin Kalsel kak. Padahal disini hampir nggak pernah ada gempa hehehe

      wah banyak juga sesarnya ya

      Delete
  7. Nah, yang kurang di kita adalah soal sosialisasi dan kewaspadaan. Padahal, karena takdir kita berada di daerah berpotensi bencana, idealnya kita akrab dengan hal-hal terkait bencana. Tahu ilmunya lah yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, seperti terlena, toh ga pernah gempa ini. Ternyata salah. Ada yang namanya periode gempa, sudah waktunya gempa, selama ini hanya "tertidur saja" saja. Benar, tau ilmu & praktiknya juga melalui simulasi misalnya. Thx

      Delete
  8. Molto interessante il tuo post.
    Buona domenica.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Grazie per l'apprezzamento. Anche successo per il tuo blog

      Delete
  9. Hampir sama kyk sumatra donk.. Kebetulan sy tuh di Bandar lampung..lumyn sering jg gempa"yg lmyn besar gempa Liwa walopun udh diluar ibukota Bandar lmpung.. Tapi efeknya kerasa banget... Air dlm bak kamar mandi aja ampe tumpah"...bhkan desember 2018 kmren jg.. Smpet anak krakatau yg meletus itu pan lmyn juga....lampung kan ujung sumatra... Dekat jg selat sunda 😱 hrs ttp waspada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Selat sunda memang berpotensi gempa juga, sepertinya harus mewaspadai bencana gunung meletus. Dan satu lagi, potensi dann karakter tsunaminya harus diwaspadai. Thx sudah sharing

      Delete
  10. Semoga cimahi dan bandung selalu dalam keadaan aman-aman yaa
    Padang nih, serem gempa tahunannya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Padang sering frekuensi gempanya ya. Lembang memang gempanya jarang, tapi sekalinya gempa bisa gempa besar. Semoga kita semua selalu mendapatkan perlindungan Allah Swt. Aamiin. Tks

      Delete
  11. saya ingat kali waktu gempa di padang, wah itu semua tetangga keluar rumah, dan lebih gawat lagi saat isu tsunami, makin parah manusia yang lari2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh ngeri juga. Kalau sudah panik, memang denger isu ini itu semakin menakutkan saja. Manusia sibuk memikirkan diri sendiri & keluarganya, tetangga kiri kanan akan terlupakan. Semoga kita semua mendapatkan perlindungan Allah SWT. Aamiin

      Delete
  12. Ditempat kami jarang ada gempa. pernah tapi kecil, namun manajemen mitigasai penting utk diketahui jika kebetulan sdg berada di tempat lain dan terkena gempa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap saja gempa kecil berarti ada potensi gempa yang tidak boleh diabaikan & perlu manajemen mitigasi gempa. Thx

      Delete
  13. kemaren tangkuban perahu juga meletus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, gunungnya hanya batuk2 kecil, tapi menyimpan potensi juga mengingat itu gunung berapi aktif. Harus ada manajemen mitigasi khusus lagi. Thx

      Delete
  14. Pendidikan dan peminatnya bersifat sukarela. Kita memang belum memiliki kesadaran penuh terhadap pencegahan karena banyak faktor yang harus kita hadapi: Latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sedikit pengaruh budaya (atau apalah namanya) yang masih suka "pasrah" kepada nasib.

    Namun saya yakin banyak juga warga yang telah mencoba membangun rumah tahan gempa. Paling tidak kesadaran itu telah ada, next time tinggal memupuknya dengan sistematis ke tengah masyarakat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, sifatnya sukarela & harus ada inisiatif dari warga setempat. Hal ini juga akibat anggaran pemerintah masih terbatas, bukan prioritas. Dan belum masuk kurikulum pendidikan juga. Thx

      Delete
  15. Nahh, di Indonesia nih masih kurang pendidikan mitigasi bencana macem gempa. Padahal jelas-jelas Indonesia banyak gunung berapi. Resiko gempa sangat tinggi. Harusnya ini jadi tugas pemerintah buat mengedukasi rakyatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Kadang saya mikir kok ga ada program tv yang membahas hal seperti itu, misal ada simulasi seperti virtual reality pasti menarik generasi milenial & juniornya. Serta belum masuk kurikulum pendidikan. Thx sudah sharing

      Delete
  16. Saya setuju banget kalau pendidikan mengenai antisipasi gempah ini masuk kurikulum plus kita seharusnya memang menyiapkan bangunan tahan gempah.

    Tapi, semua serba salah juga sih....
    Di Bali baru saja juga ada gembah di area Buleleng tapi terasa sampai ke arah selatan Bali (tempat tinggal saya).

    Sempat takjub dengan Jepang, saat ada bencana badai tempo hari dikabarkan korbannya yang cuma beberapa orang itupun lansia, betapa mereka sudah mempersiapkan semuanya.
    Termasuk pemerintah menelpon warganya satu persatu make sure masyarakatnya sudah mengamankan diri.
    Tapi, warganya juga nurut sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jepang sudah melangkah lebih jauh. Rakyat lebih sigap & mandiri, tapi pemerintahnya tetap support. Di kita, jujur saja, rakyat lebih sering nyari sendiri & berinisiatif hehe..Thx

      Delete
  17. Manajemen mitigasi bencana di negeri ini, saya akui memang masih sangat kurang. Padahal, Indonesia termasuk negara yang sering mengalami gempa namun pengetahuan mitigasi dari masyarakatnya sangat kurang. Bahkan saya secara pribadi tidak pernah mendapatkan pelajaran mitigasi di bangku sekolah formal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anggarannya tidak diprioritaskan, sehingga masih setengah hati. Memang harus ada inisiatif warganya. Semoga Mendikbud yang sekarang juga memperhatikan hal ini & dimasukkan ke kurikulum pendidikan, jadi bukan sebatas fokus inovasi&teknologi saja. Thx

      Delete
  18. kalau sempat keluar dari bangunan tinggi atau rumah..

    boleh diamggap selamat.

    bahaya gempa bumi kalau berlalu Tsunami sahaja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, tentunya wajib lewat jalur evakuasi gedung. Intinya jangan panik, ikuti instruksi petugas berwenang setempat. Thx

      Delete
  19. Luarbiasa pak Vicky, semoga masyarakat lembang bisa teredukasi dengan artikel ini..

    Salam dari warga Kalimantan barat, tak ada gunung.. Cuma ada bukit kelam saja.

    Semoga, selalu diberikan keselamatan oleh Tuhan YME untuk masyarakat Indonesia yang berada dalam radius pegunungan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Saya juga masih belajar dan mencari berbagai referensi agar semakin luas ilmunya. Doa anda, doa kita semua, jadikanlah negeri ini yang makmur dan berkah, dihindarkan dari segala macam keburukan dan bencana. Aamiin

      Delete
  20. Kenapa harus jongkok atau berlindung di bawah meja kalau material dinding itu keras akan menciderai juga nantinya?

    Artikelnya sangat bagus pak bisa untuk pemahaman orang-orang yang wilayah terkena zona gempa,tidak hanya orang wilayah Bandung saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Tapi terkadang praktiknya berbeda, karena rusuh dan panik, yang dipikirkan cuma lari sekencang mungkin keluar dari gedung. Padahal itu sangat dilarang jika masih ada gempa, bisa menimbulkan cedera. Terima kasih

      Delete
  21. semoga tabah menghadapi musibah seumpama ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga sih tidak terjadi, tapi tetap harus waspada, apalagi ilmuwan sudah berpendapat bahwa gempa Lembang itu tinggal nunggu bangun dari tidurnya saja, sekarang lagi fase tertidur. Thx

      Delete
  22. Pembelajaran seperti ini memang harus digencarkan, agar jika terjadi bencana dikemudian hari tidak panik dan malah membahayakan diri sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, harus diakui untuk simulasinya masih sangat kurang. Banyak peneliti yang sudah membahas hal ini, tapi kan tetap butuh sosialisasi nyata. Thx

      Delete

1. Silakan berkomentar secara bijak
2. Terbuka terhadap masukan untuk perbaikan blog ini
3. Niatkan blogwalking dan saling follow blog sebagai sarana silaturahim dan berbagi ilmu/kebaikan yang paling simpel. Semoga berkah, Aamiin :)😇
4. Ingat, silaturahim memperpanjang umur...blog ;)😜

Presiden Baru AS serta Dampaknya Terhadap Penegakan Hukum dan HAM di Indonesia

Joe Biden baru saja terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-46 dan membawa angin segar bagi dunia internasional, termasuk Indonesi...