All about Animals, Innovation, Law, Management, and Soccer: Harapan akan Inovasi BPJS Kesehatan

IWA

Harapan akan Inovasi BPJS Kesehatan

Kita semua tahu bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sedang mengalami persoalan defisit keuangan yang diperkirakan mencapai Rp. 32 T. Pemerintah merasa sudah membayar untuk 96 juta peserta menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), tapi di BPJS Kesehatan malah defisit, berarti memang ada yang salah kelola di internal BPJS Kesehatan itu sendiri.

Pemerintah begitu yakin dan sepertinya tidak punya solusi lain yang lebih bijak, elegan & inovatif selain memberi "kado" tahun baru 2020 berupa kenaikan iuran BPJS yang tidak tanggung-tanggung, yaitu sebesar 100 %😱. Seperti biasa, istilah yang digunakan adalah penyesuaian, padahal bilang saja naik, ini seperti istilah rasionalisasi pegawai (bilang saja PHK). Memang negara kita ini jagonya majas eufimisme untuk menghibur rakyatnya, tidak to the point😜.

Tapi, akibat kenaikan iuran yang signifikan adalah harus dipikirkan dampaknya, seperti banyaknya peserta yang turun kelas, bukankah malah menurunkan daya beli BPJS itu sendiri dan membuat target menutupi defisit mengalami penurunan? Lagi-lagi mengapa tidak disurvei dulu?

Akar masalahnya lainnya adalah kasus korupsi dan juga pengelola rumah sakit yang nakal dengan memanipulasi kategori layanan, tingkat kepesertaan aktif dari pekerja bukan penerima upah masih rendah (53,7 %), dan data yang  tidak valid seperti data ganda (sumber: money.kompas.com).
Sakitnya Sudah Berangsur Pulih, tapi Tiba-Tiba Kambuh Lagi & Muncul Penyakit Lain Akibat Stres Antre Kelamaan Saat Berobat ke Dokter dan Menebus Obat, eh Ini Ditambah Kenaikan Iuran 100 %. Ibarat Peribahasa Sudah Jatuh Tertimpa Durian Runtuh😜
 Tentunya, melihat kondisi tersebut, ada semacam keprihatinan dan harapan akan inovasi BPJS kesehatan ke depannya:
1. Ok, kenaikan iuran BPJS Kesehatan masih dapat diterima jika di kisaran 20-30 %, itupun setelah disurvei kemampuan para pesertanya. Ini kan tidak? Sepihak saja. Jadi, menurut saya, kenaikan 100 % hanya ingin cari gampangnya saja

2. Tuntaskan dulu kasus korupsi dan kecurangan pejabat (termasuk pengelola Rumah Sakit) di BPJS. Uang hasil korupsi wajib disita untuk menutupi defisit keuangan BPJS dan perlu dipublikasikan siapa yang korupsi dan berapa yang dikorupsi. Dengan adanya keterbukaan, publik akan bersimpati & memaklumi jika pada akhirnya iuran BPJS harus benar-benar naik untuk menutupi defisit yang besar, itupun setelah dikurangi uang hasil korupsi

3. Defisit BPJS Kesehatan sebaiknya dibantu (pinjam dulu) oleh saudara tuanya BPJS Ketenagakerjaan yang dinilai jauh lebih sehat keuangannya, memiliki investasi ratusan triliun rupiah (sumber: tirto.id). Masa sebagai saudara kandung tidak mau membantu🤪

4. Hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang melibatkan 1800 auditor bahwa terdapat 27,4 juta ganda dan 6 juta yang fasilitas kesehatannya tidak jelas (sumber: Koran Pikiran Rakyat tanggal 16 November 2019). Jelas ini menjadi pemborosan yang sia-sia dan harus dituntaskan dengan cara mengaudit ulang dan memuktahirkan data para peserta BPJS tersebut. Jangan sampai peserta yang sudah meninggal bisa klaim😁

5. Pembayaran yang diterima pemerintah lebih diprioritaskan pada rumah sakit besar. Dengan demikian, pembayaran dari puskesmas masih belum optimal. Ini harus dibenahi agar pemasukan merata

6. Untuk peserta baru mandiri yang akan daftar harus diseleksi secara ketat, disurvei dulu, termasuk gaji, pekerjaan, tempat kerja, dan sebagainya. Jangan sampai malah menjadi penunggak baru. Jika diperlukan, sistem pembayaran terintegrasi langsung dengan rekening bank (sebenarnya ini sudah ada, cuma kok tidak konsisten) tetap diberlakukan, jika rekening bank-nya bermasalah (kurang saldonya) akan terdeteksi sejak dini

7. Fasilitas rumah sakit di daerah diperbaiki, sehingga tidak semuanya harus rujukan ke tingkat yang lebih tinggi. Selama ini kan ada kesan dikit-dikit ke pusat (rumah sakit tipe A), sehingga pasiennya membeludak, antrean terlalu lama, dan tidak terlayani dengan baik. Tapi, saya respek beberapa puskesmas ternyata sudah menyediakan rawat inap sehingga pasien bisa tertangani dengan cepat walau sifatnya sementara. Itu jauh lebih baik daripada menolak pasien akibat fasilitas tidak ada dan menyuruh ke tempat lain, padahal bisa saja kondisi pasien sedang kritis membutuhkan pertolongan pertama di puskesmas. Tapi, secara umum fasilitas rawat inap rumah sakit & puskesmas, berikut sumber daya manusianya sudah memuaskan👍🏻. Sebagai tambahan, ada rumah sakit daerah yang mampu mengobati penyakit pasien, fasilitasnya lengkap, tapi sayangnya hanya bisa diklaim 25 %, sisanya bayar sendiri, kalau ingin diklaim penuh, ya harus buat rujukan lagi untuk diobatin di pusat. Ke depannya jangan sampai pasien membeludak di pusat kalau benar-benar bisa ditangani di daerah

8. Setiap peserta BPJS baiknya memiliki database riwayat penyakit berikut rincian biaya yang harus di-cover, mulai dari biaya rawat inap, rawat jalan, dan menebus obat. Saya kira ini penting agar arus keluar masuk keuangan BPJS Kesehatan lebih transparan dan peserta pun menyadari (ada tanggung jawab juga) berapa besar rincian biaya yang di-cover pemerintah

9. Bagi peserta BPJS yang rutin bayar iuran tapi yang jarang bahkan tidak pernah di-cover BPJS, dalam artian selalu sehat, sudah pasti sangat membantu keuangan pemerintah dan BPJS untuk mengalihkan biaya subsidi ke peserta lain yang sakit. Tentunya, peserta yang sehat tersebut sebaiknya diberikan reward khusus, agar tetap loyal dan merasa iuran tersebut bukan suatu kewajiban yang memaksa, tapi kebutuhan, bahkan dianggap sedekah, yaitu pengalihan subsidi tadi, yang seharusnya buat dia, tapi karena sehat dialihkan ke peserta lain yang sakit

10. Penunggak iuran BPJS juga wajib dituntaskan dengan cara yang simpatik. Walau penagih utang penunggak iuran BPJS Kesehatan merupakan relawan terbaik, tetap harus dilatih agar tetap simpatik tapi tegas dan berwibawa, agar disegani si penunggak iuran BPJS Kesehatan dan jangan sampai yang ditagih lebih galak dari si penagih😁. Pastikan yang namanya seram dan kekerasan dijauhkan dari sistem penagihan. Tapi, baiknya juga didahului surat peringatan dan dibekukan dulu kartu kepesertaannya, baru kalau masih bandel ditagih oleh penagih. Saya kira itu jauh lebih elegan
Penagih Utang BPJS yang Direkrut Rencananya adalah Relawan yang akan Bertugas  Menagih Utang Dengan Menggunakan Cara-Cara yang Simpatik tanpa Kekerasan. Tapi, tetap saja, Konotasi Penagih Utang Identik dengan yang Seram-Seram, itu Tidak Bisa Dibohongi😁
11. Antrean Unit Gawat Darurat (UGD)
Sudah menjadi rahasia umum, saat pasien BPJS masuk ruang UGD, yang paling dibutuhkan adalah sabar, terutama sabar menunggu mendapatkan ruang rawat inap di tengah suasana yang super sibuk dan kondisi penuh pasien (saya pernah mengantar pasien harus menunggu sekitar 3 jam untuk mendapatkan ruang rawat inap, katanya segitu masih termasuk cepat🤔). Saat proses menunggu itulah, segala persyaratan administrasi BPJS harus diurus oleh keluarga pasien, belum lagi jika harus menebus obat keluar lingkungan rumah sakit akibat di apotek setempat tidak ada. Jika tidak diurus, dijamin tidak mendapatkan pertolongan pertama dan ruang rawat inap atau istilah kasarnya dibiarkan terlunta-lunta. Ke depannya harus ada inovasi pelayanan di UGD, waktu tunggu di UGD yang lebih singkat, senyum sapa salam petugas UGD, terutama dokter jaga UGD berikut koordinasi antar dokter jaga harus ditingkatkan. Saya tahu dokter jaga UGD (terutama yang shift malam) ini bekerja di bawah tekanan tinggi, lelah, kurang tidur, dan harus cepat mengambil keputusan, karena tanggung jawabnya besar, menjadi gerbang pertama mendiagnosis pasien. Salah ambil keputusan nyawa pasien taruhannya. Dalam kondisi demikian, maka emosi terkadang menjadi tidak terkendali, biasanya ramah menjadi mudah marah, serta jutek, tidak hanya kepada pasien dan keluarga pasien, tapi mungkin saja kepada rekan kerjanya, termasuk perawat. Dalam kondisi demikian, mereka pun harus berempati kepada pasien dan juga keluarga pengantar pasien yang juga lelah dan sudah bersusah payah membawa pasien dan memilih rumah sakit tersebut untuk diberikan pelayanan terbaik, diawali dengan senyum sapa salam. Tentunya harus ada pelatihan khusus untuk itu (melibatkan psikolog) dan jumlah dokter jaga UGD harus ditambah. Tapi, saya respek dengan petugas di bagian depan UGD yang umumnya begitu sigap membantu mengangkut pasien (yang tidak bisa berjalan) dari mobil ke kursi roda atau tempat tidur pasien. Di samping itu, alangkah lebih baik ke depannya ada info digital berupa jumlah pasien UGD dan rawat inap, berikut ketersediaan ruangan, kamar tidur pasien, dan durasi waktu tunggu pasien yang akan menjalani rawat inap tapi masih tertahan di ruang UGD

Memang Tidak bisa Dihakimi, tapi Sekali Lagi itu adalah Ulah Oknum. Sumber: Survei Toluna Indonesia

12. Rawat Jalan
Ada beberapa rumah sakit yang mulai menerapkan sistem antrean online (ada aplikasinya), itu bagus sekali. Sayangnya itu hanya berlaku untuk registrasi awal. Ketika daftar ulang berlaku dari nol lagi, dalam artian siapa cepat siapa yang berhak dilayani dokter. Saya pun pernah memanfaatkan fasilitas ini saat mengantar ayah saya berobat menggunakan BPJS, tapi karena datang agak siangan, ya saat daftar ulang ya termasuk lama dilayani. Datang jam 8.30, baru dilayani dokter jam 11-an. Itupun setelahnya harus antre obat lagi yang lamanya bisa lebih dari 2 jam. Ke depannya dibuat lebih ringkas lagi, misal dipisahkan ada jalur khusus online dan offline. Lalu untuk jalur online, dapat nomor antrean sekian, maka silakan datang jam sekian untuk langsung daftar ulang dan tidak menunggu terlalu lama

13. Antrean yang terlalu lama dalam menebus obat sebaiknya juga diperbaiki, karena bisa menimbulkan masalah baru, seperti stres, emosi, dan itu tidak baik bagi kesehatan setelah sebelumnya menunggu dilayani dokter. Saya pernah merasakan antrean (menggunakan BPJS Kesehatan) yang lebih dari 2 jam hanya untuk menebus obat di suatu Rumah Sakit Umum Daerah. Daripada menimbulkan masalah baru, lebih baik dibuat sistem penomoran digital yang bisa dicek di aplikasi. Misal menebus obat hari Senin pagi, maka obat bisa diambil 3 jam kemudian, dapat dicek di aplikasi. Pengambilan obat dapat diwakilkan asal ada buktinya, bahkan bisa diantar ke rumah lewat ojek online. Semoga ke depannya seperti itu, bahkan lebih inovatif lagi

14. Saya memanfaatkan BPJS untuk melakukan perawatan gigi/scaling gigi setahun 6 kali di puskesmas. Sayangnya, banyak orang yang belum tahu. Mereka tahunya kalau BPJS hanya meng-cover peserta yang sakit, termasuk sakit gigi, padahal untuk perawatan gigi pun bisa. Saya kira perlu ada sosialisasi agar banyak masyarakat yang tahu.

Demikian artikel saya. Ada usulan dari rekan mahasiswa agar BPJS dikembalikan sistemnya ke zaman dulu, di mana hanya mensubsidi peserta yang benar-benar miskin, dengan harapan defisit dapat tertutupi. Tapi, akan ada masalah baru dan protes dari kalangan mampu tapi tetap membutuhkan BPJS (terutama untuk pengobatan jantung dan kanker yang dianggap sangat mahal). Tapi apapun yang namanya solusi hendaklah memperhatikan aspirasi semua pihak, mulai dari dokter, pengelola puskesmas, dan pengelola rumah sakit yang bermitra dengan BPJS, dan terutama dari para peserta BPJS itu sendiri. Kalau hanya kepentingan direksi BPJS saja yang diperhatikan, itu namanya keputusan sepihak. Yang bagus dari BPJS katakan bagus, sementara yang kurang harus dikritisi dan diperbaiki. Semoga saja BPJS lebih baik ke depannya dan solusi yang diambil adalah solusi terbaik, bijak, dan inovatif🙂.

Demikian artikel saya, silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:

42 comments:

  1. Replies
    1. Betul, itu karena banyak faktor, mulai dari salah kelola, banyak peserta pada ngutang, pengelola rumah sakit yang main curang, dan yang terparah korupsi. Thx

      Delete
  2. waktu tahun pertama kuliah sulu saya ingat ada semacam seminar dan salah satunya membahas rencana pemerintah untuk membuat semacam asuransi pemerintah untuk rakyat, ada rancangan uu nya juga. dari awal saya juga berfikir niatnya bagus memang pemerintah ingin berusaha terlibat dalam kepastian kesehatan masyarakatnya. tapi memang akan sangat sulit praktiknya. ya seperti sekarang ini.
    kenaikan bpjs yang tinggi memang menganggetkan masyarakat ya, tapi memang bpjs ini tidak bisa dibiarkan terus defisit menurut saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, tidak kalah kagetnya selain defisit yang mencapai triliunan adalah kenaikan iuran 100 persen tanpa survei para pesertanya. Di sisi lain, sang saudara, BPJS Ketenagakerjaan memiliki aset yang sangat besar diharapkan bisa membantu juga. Ok, kenaikan masih dimaklumi jika 20-30 persen saja. Tapi, akar masalahnya memang dari awal BPJS salah kelola, ditambah banyak yang ngutang, curang, dan korupsi juga. Di sisi lain pengawasannya lemah. Itulah penyebab defisit. Thx sudah sharing

      Delete
  3. Sebetulnya rada maless ngurusin bpjs.. Apadaya ttp ngikutin... Dulu sempet berhenti.. Tpi krna sesuatu dan lain hal dan hrs ikutin bpjs sbgi salah satu syaratnya, terpaksa ikut lgi dan membayar kewajiban lgi krn sempet keluar sebesar 1 jt... Yg plg bikin mls krn antri yg lamaaaa bangeet di RS dan rada ribet ngurus adminnya di sana.. Mana kl mo antri pk bpjs ditmpt saya harus dr jam 3 subuh udah daftar.. Kalo ga bakalan ga kebagian no antrian alias hrs ngulang lg esok harinya.... 😧

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iuran BPJS hampir pasti naik. Keterlaluan kalau masih ngantre total hampir 5 jam (itu antre rawat jalan+nebus obat). Sekarang sudah online. Tetap sediakan offline juga. Jadi tidak ada lagi ngantre jam 3 subuh. Ada yang mengatakan pasien sudah hampir sembuh, tapi kelamaan ngantre jadi muncul penyakit lain akibat stres ngantre hehe.. Thx sudah sharing

      Delete
  4. Semoga kedepannya Nanti kalau memang BPJS serius bisa memberikan layanannya secara merata dan tentunya tidak membebankan kepada rakyat kecil...

    Karena masih banyak rakyat kecil yang tidak mampu untuk mempunyai BPJS..😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Naikin iuran memang dimaklumi alasannya, tapi yang keterlaluan naiknya seratus persen tanpa diriset dulu para pesertanya. Kesannya sepihak & ngegampang aja. Thx

      Delete
  5. inilah masalah marhaen yang dihadapi ramai penduduk dunia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menarik juga tentang marhaen ini, sepintas ada kemiripan dengan kapitalisme (pemilik modal gede dituruti & didengar, sementara yang kecil ditindas & dianggap angin lalu). Sama2 ada penindasan terselubung... Semoga lebih baik ke depannya. Thx

      Delete
  6. Replies
    1. Grazie per l'apprezzamento, successo anche per il tuo blog

      Delete
  7. Memang rumit, soalnya tidak ada batasan samasekali antara yang mampu dan yang tidak mampu membayar dan benar benar membutuhkan layanan BPJS. Program ini juga memang "dipaksakan" oleh pemerintah kepada rakyat seolah tiak ada pilihan lain.

    Apakah kita mampu kita wajib BPJS, apalagi yang tidak mampu kita wajib BPJS. Kita telah memiliki jaminan kesehatan yang lebih baik, kita juga tetap wajib mengikuti program ini. Saya pribadi samasekali tidak keberatan dengan asumsi membantu pendanaan bagi orang tidak mampu misalnya, tapi...kantong kantong baju pejabat itu juga dalam buat sembunyikan dana apa saja, tidak perduli walupun harus menyelengkan dana kesehatan untuk orang miskin.

    Bukannya mau apriori, saya telah berkali kali mendapatkan pengalaman buruk pada saat menggunakan kartu BPJS padahal setiap bulan membayar yang kelas 1. Hanya satu kali yang nyaman, yaitu ketika berada di sebuah kota kecil, itupun karena tidak banyak pasiennya. Sampai kapan harus begini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Mungkin yang dikeluhkan adalah lama antrean rawat jalan & nebus obat. Idealnya antre maksimal 1 jam. Ini kan antre rawat jalan+nebus obat total bisa 5 jam, kan tidak manusiawi. Sementara direksi BPJS dipertanyakan kenapa naiknya langsung 100 persen, apa tidak disurvei dulu? Saya kira kebijakan tersebut cenderung cari gampangnya saja... Semoga ke depannya lebih baik & aspiratif. Thx

      Delete
  8. Memang ya mas di indonesia ini jagonya bolak balik terminologi. Ehehhe... Kalau soal bpjs, saya rasa itu semua udah penggambaran yang lengkap dari mas vicky.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu, istilah yang diperhalus (eufimisme) untuk menghibur rakyat, padahal arti aslinya justru membuat sedih rakyat kecil. Tapi apapun itu, semoga BPJS semakin inovatif. Cukup terakhir ini naikin iuran sampai 100 persen, itu bukan inovasi, tapi cari gampangnya saja hehe...

      Delete
  9. saya kaget bulan ini bayar bpjs kok sudah naik 100% kirain mulai tahun depan, ini yang membuat jantung kumat, apa saya yang kurang membaca atau melihat informasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, setau saya tahun depan naiknya. Kemarin saya bayar masih belum naik, mungkin itu akumulasi karena belum dibayar bulan sebelumnya. Tapi, iuran naik lama antrean harus dikurangi. Thx

      Delete
  10. Semoga bapak mentri kesehatan yg baru bisa membenahi segala permasalahan yg ada di BPJS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang dibutuhkan inovasi, bukan kontroversi. Semoga saja... Thx

      Delete
  11. Saya lebih tertarik dengan meme nya karena lucu semuanya. Kalo soal kenaikan iuran BPJS kesehatan walaupun berat tapi apa boleh buat harus bayar karena saya punya orang tua yang kesehatan harus di prioritaskan, toh kalo bayar di dokter umum juga 150-200 RB sekali berobat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Meme yang saya posting memang diupayakan ada pesan moralnya, tidak sebatas lelucon biasa. Memang soal BPJS, peserta menjadi pihak yang lemah karena aturan sepihak dibuat oleh penguasa. Aspirasi merek kurang didengar. Memang naiknya 100 persen (kalau 20-30 persen dimaklum) sepertinya terkesan tidak disurvei dulu. Lagi2 itu sepihak. Semoga saja lebih baik ke depannya. Thx

      Delete
    2. Ya maklumi aja, sama seperti listrik juga di monopoli PLN, kalo ga bayar listrik aja di denda, tapi kalo mati listrik ga ada pemberitahuan. *Siapin lilin..😁

      Delete
  12. Hmm Bicara Asuransi di Indonesia memang agak rumit, karena baru di terapkan. Di Belanda setiap orang wajib ikut asuransi kesehatan dan itu langsung ter-koneksi dengan rekening tabungan serta data sosial (pajak, KTP, alamat rumah) pemegang polisnya. jadi ga bisa main ga bayar spt di Indonesia, trus karena asuransinya boleh milih pake asuransi apa saja, tidak di monopoli oleh badan pemerintah, maka konsumen juga bebas menentukan pilihannya, dengan konsukwensi jenis pelayanan yg akan diterimanya nanti. Semoga Indonesia segera selesai urusan BPJS nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Belanda tentunya pendapatan per kapita rakyatnya lebih baik & data tentang adminstrasi kependudukan lebih rapi, sehingga akan lebih mudah diintegrasikan.Kalau background peserta diketahui, maka yang namanya menunggak dapat diminimalisir. Thx

      Delete
  13. Economical issues are affecting more and more countries nowadays nut it is sad when that touches the health system because a person needs a good health care first of all. A healthy person can work well, provide to family and pay taxes this is why I believe that the cuts in this direction are a mistake. A healthy citizen is a good citizen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree, citizens who are physically, mentally, and financially healthy can also comply with government regulations such as paying government insurance. The problem is in my country, Indonesia has an income gap for citizens. The local government did not survey in advance, so it was only natural to get protests. Thank you for your appreciation of the topic of my blog which is actually a major issue in Indonesia. Success and health is always for you

      Delete
  14. saya terbantu banget dengan bpjs. Sejak jaman masih askes ut layanan kesehatan ya membantu banget. Emg kudu harus sabar dengan masalah administrasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Akan sangat kerasa untuk pengobatan berat seperti jantung dan kanker itu akan sangat mahal bagi orang berkecukupan sekalipun dan BPJS meng-cover biaya tersebut walaupun hal itu pulalah (salah satu faktor) yang membuat BPJS menjadi defisit. Sabar dengan birokrasi dan sabar mengantre berjam-jam hehe..

      Delete
  15. Blog ini tidak ada iklannya lagi? Apakah karena pengaruh ganti nama blog?
    Soal naiknya BPJS sa,pai 100% itu adalah jumla yang mencengangkan.
    Rasanya todak manusiawi menaikkan seperti itu jika akar masalah utamanya tidak diatasi.
    Akar permasalahan seakan tidak saggup diatasi dan ganya ambil jalur lain yang menyulitkan rakyat kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Aneh juga pas minta peninjauan ulang adsense ditolak dengan alasan tidak ada konten, padahal konten bertambah terus. Iklan lain masih ada (adnow&infolink) tapi hanya untuk tampilan web. Untuk kenaikan iuran BPJS, memang kok langsung 100 persen, kalau 20-30 persen dimaklum. Tidak ada survei terlebih dulu & direksi hanya ambil solusi gampangnya saja. Thx

      Delete
    2. Tapi anehnya Alexa rank Indonesia naik cepat ke 9 ribuan, menyalip 2 blog saya yang lain walaupun secara rank global masih di bawah 2 blog saya yang lain....

      Delete
  16. How my posts are once
    a month I'm already wishing you a good
    Christmas and a good new year's eve.
    Janicce.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thx. Success for your blog/business. God blessed you too..

      Delete
  17. Спасибо за полезную информацию!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Надеюсь, полезно и успешно для вашего блога и бизнеса

      Delete
  18. Memang ada plus minusnya jd peserta bpjs, yg jelas harapanku semoga birokrasinya lebih dipermudah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Birokrasi dan sistem antreannya harus diperbaiki. Thx

      Delete
  19. Salam kunjungan dari Malaysia. Follow disini ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thx sudah berkunjung ke blog saya. Sukses untuk anda dan salam dari Indonesia...

      Delete
  20. Le cose più belle della vita non si trovano sotto l’albero, ma nelle persone che ti stanno vicino nei momenti speciali.
    Buon Natale!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Grazie Successo per il tuo blog e la tua attività. Benedizioni sempre per te e la tua famiglia

      Delete

1. Silakan berkomentar secara bijak
2. Terbuka terhadap masukan untuk perbaikan blog ini
3. Niatkan blogwalking dan saling follow blog sebagai sarana silaturahim dan berbagi ilmu/kebaikan yang paling simpel. Semoga berkah, Aamiin :)😇
4. Ingat, silaturahim memperpanjang umur...blog ;)😜

Disrupsi Digital dan Inovasi Era Kenormalan Baru

Disrupsi Digital Pandemi Covid-19 yang terjadi berbulan-bulan dan menimpa hampir seluruh negara di dunia membuat kacau kondisi ekonomi se...