All about Animals, Innovation, Law, Management, and Soccer: Tim Impian Liga 1 Indonesia 2019 versi Penulis

IWA

Tim Impian Liga 1 Indonesia 2019 versi Penulis

Kompetisi liga sepak bola putra kasta tertinggi nasional (Liga 1) 2019 baru saja usai dan menasbihkan Bali United sebagai juara pertamanya. Nah, biasanya setelah kompetisi selesai, tim analis Liga 1 dan para komentator bola kelas kakap beramai-ramai menganalisis siapa saja 11 pemain (berikut 7 pemain cadangan) terbaik Liga 1 tahun 2019. Begitupun saya tertarik membuat analisis sendiri😜,  Untuk pemain asing saya batasi empat saja meliputi Marko Simic (Kroasia), Konate Makan (Mali), WillianPacheco (Brazil), dan Yevhen (Ukraina).
 

Dengan formasi 4-4-2, saya mulai dari posisi kiper:
Saya memilih Nadeo Argawinata sebagai kiper utama dan Miswar Saputra sebagai kiper pelapis. Alasan:
- Usia muda tetapi performa konsisten dan masih dapat ditingkatkan ke depannya
- Postur ideal (di atas 180 cm)
- Mental teruji
- Performa Nadeo semakin ok di timnas Sea Games 2019 dan disebut-sebut Kepa-nya Indonesia (tidak hanya skill, tetapi juga postur dan wajah mirip kiper Chelsea)
- Tidak emosian
- Khusus Miswar Saputra, seharusnya dia diberi kesempatan masuk tim nasional (timnas) senior

Berlanjut ke posisi duet bek tengah:
Saya memilih dua bek tangguh (kombinasi asing dan lokal) Willian Pacheco dan Hansamu Yama untuk diduetkan di tim inti. Alasan:
- Usia muda tapi performa konsisten
- Kombinasi postur raksasa Willian Pacheco yang hampir 2 meter dengan postur ideal 180 cm Hansamu yang lebih gesit main bola bawah walau cukup tangguh juga main bola atas
- Kontribusi untuk tim: Willian Pacheco membawa Bali United juara dan Hansamu membawa Persebaya runner-up. Keduanya membuat tim yang dibelanya sedikit kebobolan
- Mental ok
- Willian Pacheco sering membantu penyerangan tim dan mencetak gol, terutama dari bola mati 
- Hansamu juga konsisten sebagai pemain langganan timnas
- Hansamu sebagai leader / kapten tim

Sementara untuk pelapis bek tengah dipilihlah bek naturalisasi Persebaya Otavio Dutra. Postur ok, performa konsisten, sering membantu penyerangan+mencetak gol dari bola mati, kelas timmembawa timnya menjadi runner-up dan sedikit kebobolan (bersama rekan duetnya Hansamu, serta mental teruji). Usia di atas 30 tahun tidak terlalu menjadi masalah, karena kebugarannya masih terjaga.

Berlanjut ke dua full back kiri dan kanan, saya memilih Ardi Idrus dan Putu Gede Juni Antara di tim inti. Alasan: 
- Kedua pemain inilah yang dirasa paling konsisten
- Putu Gede cukup impresif dan elegan membawa Bhayangkara FC bersaing di papan atas, sementara Ardi Idrus dengan karakter ngeyel dan membuat frustasi penyerang sayap lawan
- Usia keduanya masih muda
- Mental teruji
- Keduanya pemain timnas senior

Sementara untuk pelapis mereka berdua dipilihlah Ricky Fajrin dari Bali United dengan alasan performa cukup konsisten, masih muda, mental ok, rajin overlap, kaki kidal dan bermain di dua posisi (bek kiri dan bek tengah) sama baiknya menjadi nilai plus.

Lalu untuk duet gelandang tengah, saya memilih duet Konate Makan dan Zulfiandi. Alasan:
- Keduanya saling melengkapi, Konate Makan attacking playmaker modern yang rajin mencetak gol (top score gelandang serang dengan 16 gol) dan mau ikut bertahan juga, Zulfiandi kuat dalam bertahan dan bisa mencetak gol dengan tendangan jarak jauhnya
- Masih usia muda 
- Performa konsisten
- Mental teruji
- Zulfiandi pemain timnas senior

Untuk pelapis keduanya, dipilihlah pemain muda kidal terbaik Liga 1 Todd Rivaldo Ferre sebagai pelapis Konate Makan dan Hanif Sjahbandi sebagai pelapis sepadan Zulfiandi. Todd dikenal sebagai playmaker agresif dan lincah bisa bergerak ke tengah dan sayap, sementara Hanif berposisi sebagai gelandang bertahan (bisa juga bek tengah) yang rajin mencetak gol ketika overlap memiliki postur bagus. Keduanya juga merupakan langganan timnas, Todd di tim junior dan Hanif di tim senior.

Beralih posisi sayap, saya memilih Febri Hariyadi di sayap kanan dan Osvaldo Haay di sayap kiri. Alasan:
- Keduanya pemain sayap dengan kecepatan lari yang luar biasa dan masih muda
- Performa cukup konsisten, khusus Osvaldo Haay performanya semakin ok di timnas Sea Games 2019
- Keduanya kuat di kaki kiri menjadi nilai plus
- Mental teruji
- Keduanya pemain timnas
- Osvaldo bisa bermain di sayap maupun false nine, disebut-sebut Neymar-nya Indonesia 

Sementara pelapis mereka adalah Septian David Maulana, pemain sayap muda produktif yang tidak kalah gesitnya dengan mereka berdua. Menjadi langganan timnas juga. Bahkan, bisa bermain sebagai playmaker modern dan penyerang lubang ala Konate Makan menjadi nilai plus.

Terakhir untuk posisi penyerang dipilihlah top score Liga 1 Marko Simic (28 gol). Dengan karakter striker murni, pemantul bola, dan target man yang cenderung diam di kotak penalti harus dilayani oleh striker yang cepat dan mau membuka ruang, namun tetap haus gol. Dan itu dimiliki oleh seorang Yevhen Bokhashvili (16 gol). Pelapis dari duet striker maut ini adalah Ilija Spasojevic, penyerang naturalisasi yang mencetak 16 gol musim ini. Karakternya mirip dengan Marko Simic, cuma tidak segarang Simic dalam hal produktivitas gol. Namun, kontribusi Spasojevic membantu timnya Bali United juara menjadi nilai plus.

Saya membatasi hanya 3 pemain tua berusia 30 tahun ke atas di tim pilihan saya, yaitu Marko Simic, Ilija Spasojevic, dan Otavio Dutra. Supaya lebih berwarna dan energik saja.

Terakhir,  untuk pelatih jelas semua setuju pelatihnya Stefano Cugurra Teco yang berhasil membawa Bali United juara Liga 1 tahun 2019 dan Persija Jakarta juara Liga 1 tahun 2018. Kejeliannya merekrut pemain asing berkualitas dipadukan dengan pemain bintang lokal dan pemain muda yang sedang berkembang menjadi kunci sukses pelatih asal Brazil.

Demikian artikel blog saya tentang sepak bola Indonesia. Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan & kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah & solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:

18 comments:

  1. Happy New Year, I wish you all the best!
    Kisses, Paola.

    Expressyourself

    ReplyDelete
  2. sudah pantas jadi komentator bola bung hehe... cuma 4 pemain asing non asia semua ya, harusnya 3+1 (3 non asia, 1 asia)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya betul, dikirain Yevhen itu asia, ingetnya Uzbekistan, padahal kan Ukraina, Eropa Timur. Gpp lah, ga dilombain ini hehe... Tks

      Delete
  3. tapi skg kasian coach teco blm bsa dampingin bali utk kompetisi asia krn blm punya lisensi pro :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu kelemahan kompetisi liga di sini, makanya masih di bawah Liga 1 Thailand & Malaysia. Masa harus jadi profesor & guru besar seperti Emral Abus untuk jadi pelatih di LCA? Tks

      Delete
  4. kapan ya mas Indonesia masuk ke liga dunia, saya memimpikan itu lho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan piala dunia, jadi macan Asia (seperti dulu) saja masih berat. Dulu timnas Jepang berguru ke Indonesia, sekarang Jepang sudah jadi macan Asia yang pernah merasakan piala dunia. Indonesia malah mundur, jadi raja Asia tenggara juga sulit. Banyak faktor, mulai dari federasi, sport science, sport IT, fasilitas, dsb. Padahal potensi pemain bagus2

      Delete
  5. Kalo penyerang timnas Indonesia masih kurang ya. Sejak jaman Bambang Pamungkas dan Kurniawan Dwi Yulianto belum ada lagi stiker lokal yang konsisten membuat gol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Terakhir era Boaz Solossa. Setelah itu tidak ada yang konsisten lagi. Memang banyak striker naturalisasi, tapi pada ga konsisten walau di klubnya bagus2. Tapi saat di timnas memble kehabisan bensin. Banyak faktor juga, di antaranya jadwal liga & timnas terlalu dekat, bahkan bentrok. Gimana mau fokus & menunjukkan performa terbaik?

      Delete
    2. Betul sekali, menurutku faktor jadwal liga dan timnas yang terlalu dekat sehingga pemain udah kecapaian di liga, sehingga saat main di timnas loyo.

      Menurutku sih liga di liburkan dulu sebulan sebelum timnas main, agar optimal gitu.

      Delete
    3. Memang yang harus bertanggung jawab adalah PSSI dan pengelola liga, kebiasaan bikin jadwal diundur2 terus. Termasuk juga kenapa polisi tidak dilibatkan menyusun jadwal, baru saat hari H bentrok dengan pemilu, hari buruh. Akhirnya ga dapat izin.

      Delete
  6. Tadi pas lihat di blog nya Mas Vicky, baru engeh ternyata nulis soal liga 1 juga. Soalnya saya pun juga menulis, tapi memprediksikan bahwa Bali United yang bakal keluar sebagai juara.

    Jadi berharap semoga musim ini ada lagi ya event Liga 1, biar bisa nulis lagi soal prediksi 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah menggemari sepak bola Indonesia juga ya. Bali United diprediksi juara tahun musim ini maksudnya (2020)? Tapi, unik di Liga 1 Indonesia, sulit untuk menjadi juara bertahan, selalu saja tim yang berbeda juaranya. Tim paling mahal, rekrutmen banyak pemain bintang, tidak jaminan juara. Dan jangan lupakan juga performa klub sering menurun jika banyak pemain kuncinya dipanggil timnas, apalagi jadwal liga dengan timnas berdekatan, itu sudah fakta bukan mitos lagi hehe... Liga 1 akhir Februari 2020 sudah pasti...

      Delete

1. Silakan berkomentar secara bijak
2. Terbuka terhadap masukan untuk perbaikan blog ini
3. Niatkan blogwalking dan saling follow blog sebagai sarana silaturahim dan berbagi ilmu/kebaikan yang paling simpel. Semoga berkah, Aamiin :)😇
4. Ingat, silaturahim memperpanjang umur...blog ;)😜

Disrupsi Digital dan Inovasi Era Kenormalan Baru

Disrupsi Digital Pandemi Covid-19 yang terjadi berbulan-bulan dan menimpa hampir seluruh negara di dunia membuat kacau kondisi ekonomi se...