All about Animals, Innovation, Law, Management, and Soccer: Potensi Pesepakbola Indonesia tapi Selalu Sulit Mendunia

IWA

Potensi Pesepakbola Indonesia tapi Selalu Sulit Mendunia


Pesepakbola Berbakat Indonesia: Egy Maulana Vikri. Sumber: bola.okezone.com

       Indonesia dikenal memiliki pesepakbola berbakat dengan ciri khas punya kecepatan di balik postur sang pemain yang rata-rata di bawah 175 cm. Seharusnya dengan ciri khas inilah pesepakbola Indonesia bisa go internasional. Namun, banyak dari mereka yang mencoba karir di luar negeri, hanya bertahan sesaat, mentok, dan ujung-ujungnya kembali berkarir di Indonesia. Contoh: Irfan Bachdim, sempat merumput di Liga Belanda, lalu turun kasta ke Liga 2 Jepang, ujung-ujungnya kembali ke Liga 1 Indonesia di usia 28 tahun. Idealnya, dalam usia emas tersebut, Irfan Bachdim bisa berkarir di J-League (kompetisi tertinggi Jepang) atau kompetisi tertinggi negara lain yang kualitasnya di atas Indonesia. Hal ini yang membedakan dengan pesaing berat Indonesia, dengan postur yang hampir mirip, raja Asia Tenggara, timnas Thailand yang banyak mengirimkan pemainnya untuk bermain di luar negeri, sehingga skill dan performanya semakin terasah, sehingga tidak heran kualitas timnasnya pun cenderung stabil dan sulit dikalahkan lawan mana pun. Contoh: Teerasil Dangda, striker timnas Thailand yang sempat mencicipi kompetisi Liga Spanyol La Liga bersama Almeria.
         Diupdate 29 Maret 2018, Indonesia patut berbangga karena salah satu aset terbaiknya di bidang sepak bola, bintang timnas U-19, striker muda Egy Maulana Vikri, direkrut dan dikontrak tanpa trial selama 3 tahun oleh tim dari kasta tertinggi Liga Polandia, yaitu Lechia Gdansk, terhitung mulai Juli nanti. Ya, tanpa trial, tidak seperti kebanyakan pemain kita kalau ingin direkrut oleh klub dengan kasta dan kualitas yg lebih baik dari Liga Indonesia, hrs melewati trial. Tentunya ini tidak lepas dari peran aktif Indra Sjafri sbg perwakilan PSSI yang pandai mengorbitkan pemain muda, sang agen (Dusan Bogdanovic), ayah angkat Egy (Subagja Suihan), dan pemerintah (diwakili Menpora), yang pandai mengambil hati klub yang timnasnya berada peringkat enam terbaik di dunia. Tidak tanggung2, pemain yang dijuluki Messi-nya Indonesia karena kesamaan karakter, gaya main, dan postur ini diberi nomor punggung keramat 10 di klub yang berjuluk Bialo-zieloni yang artinya Putih Hijau. Nomor punggung 10 asalnya milik gelandang Lechia Gdansk, Sebastian Milla, namun kontraknya habis bulan Juli dan klub berhak memindahkan nomor punggung tersebut kepada Egy. Sepertinya begitu besar harapan klub dengan pemberian nomor pungggung keramat tersebut agar Egy semakin bersinar performanya, menjadi pemain kunci di klub tersebut, bkn malah sebaliknya. Gara2 Egy pula, akun IG resmi Lechia Gdansk langsung dibanjiri followers baru sampai meningkat 500 %.
       Sebelum mengikuti latihan permanen bulan Juli di klub Polandia tersebut, performa dan konsistensi Egy mulai diuji saat memperkuat timnas Indonesia U-19 vs timnas Jepang U-19, di SUGBK, Jakarta Hasilnya di luar dugaan, timnas Indonesia U-19 seperti kalah kelas dan akhirnya kalah telak 1-4. Bkn kekalahan telak yg disoroti publik, tapi lebih kepada performa Egy Maulana Vikri yang menurun drastis. Lawan sudah tahu, ketika Egy menguasai bola langsung dijaga ketat oleh beberapa pemain lawan dan di situ Egy sulit untuk melepaskan diri dari pertahanan lawan yang dianggap salah satu yg terbaik di Asia. Ditambah lagi suplai bola ke Egy juga sangat minim. Bahkan, pelatih timnas Jepang U-19, Masanaga Kageyama, mengatakan performa Egy di pertandingan tersebut buruk, bkn spt Egy yg spt biasanya. Hal ini tentunya menjadi PR besar jika Egy ingin karirnya bertahan, bahkan melesat di Lechia Gdansk. Masalah konsistensi performa dan mental msh menjadi masalah Egy. Belum lagi tekanan berat dari publik terhadap seorang Egy, melebihi rekan2nya di timnas Indonesia U-19 dan kisah nyata banyak pemain kita (pendahulu Egy) hanya bertahan sesaat berkarir di luar negeri, bahkan hanya mencicipi trial saja, sebelum ujung2nyab balik dan berkarir ke Indonesia tanpa ada progress, itu juga menjadi beban. Harapannya sih klub Lechia Gdansk hanya sebagai batu loncatan Egy untuk memperkuat tim yg lbh besar lagi, tim terbaik dunia. Semoga..
Sumber: merdeka.com
       Nah, mengenai masalah Egy dan juga pemain timnas Indonesia lainnya, apa yang membuat mereka sulit merintis karir di luar negeri, atau seandainya berhasil pun hanya bertahan sesaat?
1. VO2 Max yang tidak memenuhi standar
      VO2 Max merupakan kapasitas maksimum tubuh seseorang untuk mengangkut dan menggunakan oksigen selama latihan intensif, dengan satuan ml/kg/menit. Sebagai contoh Cristiano Ronaldo memiliki VO2 Max 75, sementara Neymar 73. Bagaimana dengan pesepak bola Indonesia, sebagai contoh yang terbaik misalnya Evan Dimas punya VO2 Max 65. Kebanyakan di bawah itu. Hal itulah yang membuat pemain Indonesia seringkali menyerah sebelum bertanding karena minder dengan VO2 Max yang rendah, walaupun punya skill dan kecepatan bagus. Tdk bisa dibohongi kalau VO2 Max rendah, biasanya hanya sanggup main dengan performa maksimal hanya 30 menit pertama, setelah itu drop, mudah ngos2an, sering salah umpan, n berat utk berlari. Contoh: tanggal 11 Januari 2018, Indonesia Selection dikalahkan peserta Piala Dunia 2018 Islandia 0-6, babak pertama bs ngimbangin, babak kedua hancur lebur. Padahal Indonesia Selection bnyk menurunkan pemain tua berpengalaman, sdgkn Islandia bnyk menurunkan pemain muda. Tim Islandia mengajarkan bahwa sepak bola tidak melulu soal speed spt yg terlalu didewakan di negara kita. Contoh lain: tanggal 14 Januari 2018, giliran timnas Indonesia yg sesungguhnya (mayoritas pemain muda) dihajar Islandia jg dgn skor 1-4. Memang performa timnas rada lbh baik dibanding Indonesia Selecton, babak pertama pun lbh agresif, gesit, bhkn buat gol terlebih dulu, tp akr mslh msh sama, babak kedua drop, VO2 Max kalah kelas, n smkn sering kalah duel, ujung2nya kalah telak. Tp memang ga bisa jaminan, kl genetiknya sdh kalah, mau gmn lg. Hal ini yang sampai sekarang menjadi kendala pemain kita. Apakah ini sudah menjadi genetik? jadi kalau sudah dari lahirnya VO2 Max-nya segitu, ya sudah sulit ditingkatkan. Sepertinya kualitas VO2 Max pun ada kelas-kelasnya, apakah masuk level Asia Tenggara, level Asia, atau level dunia. Kalaupun itu tidak berkaitan, mungkin solusi terbaiknya adalah transfer knowledge dan pembinaan usia dini secara profesional dan didukung sarana yang memadai. Lagi-lagi biasanya masalah klasik terkendala anggaran. Hal ini menjadi tugas pihak terkait, PSSI.

2. Body Balance dan Fitness yang Rendah
       Banyak pemain kita ketika bermain di laga internasional melawan klub/timnas top dunia, baru juga megang bola, disentuh lawan sedikit langsung jatuh dan minta pelanggaran, padahal itu bukan pelanggaran. Mungkin pemain kita harus berkaca pada pemain dunia yang posturnya setipe, seperti Kun Aguero dan Messi, postur mereka kecil, tapi kokoh dan tidak mudah jatuh. Untuk memiliki postur tersebut, memang latihan fitness pemain kita yang harus diperbaiki, agar mencapai standar internasional. Di kita memang terlalu mendewakan kecepatan, seperti yang diutarakan banyak pelatih Indonesia, tapi melupakan aspek-aspek lain yang tidak kalah pentingnya.

3. Genetik
       Sehebat-hebatnya pesepakbola Indonesia, kalau genetiknya sudah mentok dan hanya bersaing di Asia Tenggara, ya sulit untuk berkembang. Solusinya adalah menciptakan genetik terbaik dari pesepakbola top dunia maupun mantan pesepak bola top dunia yang menikah dengan wanita Indonesia. Dengan demikian, ada genetik terbaik yang muncul dan itu harus diasah secara profesional sejak usia dini. Kan senang kalau ada pemain timnas yang posturnya ala Eropa (190 cm) di bek tengah dan striker murni dengan skill mumpuni dan punya speed juga. Kalau ga gitu, ya genetiknya mentok lagi, sulit mencari pemain yang berpostur tinggi, dan hanya bersaing di Asia Tenggara doang.

4. Channel
       Selama ini channel/koneksi pemain kita terhadap klub-klub top dunia masih sangat terbatas. Sangat jarang pemandu bakat di sana datang ke Indonesia untuk mencari bibit unggul dari Indonesia. Hal ini perlu dukungan PSSI dan pemerintah untuk membantu memajukan bibit-bibit unggul dari Indonesia dengan cara mengadakan kerja sama dengan klub-klub top dunia. Setahu saya, baru Erik Tohir yang aktif mengurusi hal-hal yang demikian, itupun masih belum maksimal, karena pemain yang ada hanya ditrial doang di klub Italia, bukan dikontrak jangka panjang, ujung-ujungnya kembali ke Indonesia.

5. Adaptasi
       Banyak pemain kita yang mengalami kesulitan adaptasi bermain di luar negeri, mulai dari perbedaan cuaca, makanan, bahasa, budaya, lingkungan, dan sebagainya. Terlalu sulit beradaptasi mengakibatkan homesick dan rindu pulang kampung. Hal ini jika dibiarkan tentunya mengakibatkan turunnya performa sang pemain. Solusi yang cukup jitu adalah pemain tersebut harus didampingi oleh psikolog dan terutama orang Indonesia yang sudah lama menetap di sana

6. Sertifikasi Pelatih Berstandar Internasional
      Pelatih lokal yang sudah berlisensi standar internasional masih terbatas jumlahnya. Hal yang miris, terkadang pelatih dengan lisensi yang tidak memenuhi syarat dan biasanya tidak up to date, cenderung dipaksakan melagtih dengan gaya melatih yang jadul dan tidak sesuai zaman. Akibatnya, hasilnya pun tidak maksimal. Perlu ditingkatkan lagi kualifikasi pelatih lokal agar memenuhi standar internasional (bahkan kalau perlu menguasai bahasa asing). Di samping itu perlu digalakkan transfer knowledge dari negara yang sudah mapan sepak bolanya tapi punya karakter mirip2 dengan Indonesia, misal Spanyol, Jepang, dan Thailand. Ga usah malu/gengsi berguru kepada mereka. Suatu saat Indonesia bisa seperti mereka.

7. Ekspektasi Berlebihan Publik Menjadi Beban
        Ya, ekspektasi berlebihan dari publik, termasuk suporter dan media, menjadikan pemain terbebani dan seperti hanya memiliki dua pilihan hasil: pertama dielu-elukan sebagai pahlawan karena berhasil banget dan mengharumkan nama negara atau dicaci sebagai pecundang karena hanya bertahan sesaat, bikin gagal paham, dan kembali ke Indonesia tanpa ada progress. Tentunya, untuk m yg mengatasi hal tsb, diperlukan bantuan orang2 terdekat, psikolog, motivator, penasihat spiritual, sharing dengan pemain senior yg pernah menimba ilmu di luar negeri, dan sejenisnya, utk mengatasi hal2 tsb yg tentunya tdk boleh dianggap remeh.


Diupdate 15 Agustus 2018
8. Diekspose dan Diforsir secara Berlebihan
       The rising star yg diekspose secara berlebihan, terutama oleh media, bisa mempengaruhi performa sang pemain yg sdg taraf berkembang. Bisa saja performa sang pemain tdk mengalami progress, akibat konsentrasi terpecah krn selalu disorot media, mendapat tawaran menjadi bintang iklan, dan tampil di televisi. Bnyk pemain kita yg layu sblm berkembang krn lbh tertarik ke dunia entertainment. Di samping itu, sang pemain seringkali diforsir melebihi batas kemampuannya. Ingat dulu, timnas U-19 era Evan Dimas cs yg sedang dlm progres naik hrs menjalani uji coba tur nusantara antar pulau (yg terlalu berlebihan) demi menghormati undangan tuan rumah. Akibat terlalu diforsir, performa tim mengalami penurunan drastis di turnamen resmi di Piala Asia.

9. Ahli Sport Science+IT Berikut Sarana Pendukungnya yang Masih Tertinggal 
       Dibutuhkan anggaran yang besar untuk membangun sport science+IT beserta sarana pendukungnya serta merekrut ahli di bidangnya agar setara dengan negara yang sudah maju sepak bolanya. Indonesia belum siap untuk itu, padahal secara bisnis, sepak bola sudah dapat dikatakan menjadi industri yang menjanjikan. Banyak sektor ekonomi yang terlibat di situ. indonesia pun harus sering melakukan transfer knowledge dari negara yang sudah maju dan berprestasi sepak bolanya. Ga usah jauh-jauh, lapangan sepak bola untuk pertandingan resmi maupun latihan yang memenuhi standar internasional (termasuk sistem drainasenya) bisa dihitung dengan jari. Gimana performa pemain dan tim bisa maksimal jika lapangan saja sudah bermasalah
      Saat ini, timnas Indonesia punya segudang pemain muda berbakat yang berpotensi mendunia seperti Febri Hariyadi, Egy Maulana Vikri, dan yang terbaru Sutan Diego Zico. Tiga pemain ini harus diasah secara profesional dan standar internasional. Saatnya mereka menempa diri di luar negeri, di negara yang sepak bolanya jauh lebih baik dari Indonesia, jangan di Indonesia lagi, dikhawatirkan karirnya mentok dan terkontaminasi dengan aura sepak bola Indonesia. Sy yakin Febri kalau adu sprint dengan pemain top seperti Neymar, pasti bisa mengimbangi atau Egy Maulana Vikri bisa meliuk-liuk seperti Messi (cuma tadi itu, VO2 max jadi kendala, paling hanya sanggup 30 menit sampai 1 babak saja, dan jg faktor mental). Inginnya sih, Indonesia itu seperti Wales, timnasnya sempat ga dikenal dunia, peringkat FIFA-nya sempat setara dengan Indonesia, tapi banyak pemain berbakat yang go international dan mengangkat prestasi timnas, seperti generasi Ryan Giggs, Bellamy cs dan yang terbaru Gareth Bale, Ramsey, Joe Allen cs.
     Atau kalau mau lebih ekstrem seperti saran imajinasi saya tadi, sudah saja buat bibit unggul yang diciptakan sendiri dan proyeknya dibiayai pemerintah, dengan peserta wanita WNI yang siap menikah, nantinya dinikahkan dengan pria WNA yang merupakan pesepakbola top dunia atau minimal pemain legenda, diharapkan muncul generasi dan genetik pesepakbola dunia di Indonesia, mulai dari skill, postur, dan sebagainya. Jangan sampai, yang ada generasi micin hehe..

Seandainya ada Neymar dari Indonesia hasil kawin silang... Sumber: bravaradio.com
      Lalu, bagaimana dengan masalah kebebasan? Kan, itu nantinya dianggap mengekang HAM? Tidak juga, toh mereka yang jadi peserta proyek "besar" ini akan terjamin biaya hidupnya, termasuk biaya hidup anak2nya. Mereka tinggal ikuti aturan pemerintah. Tapi, lagi-lagi Itu hanya harapan dan imajinasi saya untuk kemajuan olahraga, khususnya sepakbola di negeri ini, agar prestasinya jangan mentok lagi di Asia Tenggara, harus naik kelas menjadi macan Asia, kalau perlu macan dunia. Semoga saja harapan dan imajinasi tersebut bisa terealisasi...
       Silakan mampir juga ke blog saya yg kedua (ttg kesehatan & kemanusiaan, full text english) dan ketiga (ttg masalah & solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:
Blog 2: healthyhumanityvicagi.blogspot.com
Blog 3: listrikvic.blogspot.com





1 comment:

  1. Ini dia bisnis paling menguntungkan dengan modal paling murah untung nya banyak! cuma daftar di situs kami dan dapatkan id pro untuk bisa jadi pemenangnya dijamin menang banyak!

    www.jurusqiu.info

    jadilah pemenang di situs kami! modal paling murah menangnya gampaaanngg! daftar disini ya gratis!

    ReplyDelete

1. Silakan berkomentar secara bijak
2. Terbuka terhadap masukan untuk perbaikan blog ini
3. Niatkan blogwalking dan saling follow blog sebagai sarana silaturahim dan berbagi ilmu/kebaikan yang paling simpel. Semoga berkah, Aamiin :)😇
4. Ingat, silaturahim memperpanjang umur...blog ;)😜

Presiden Baru AS serta Dampaknya Terhadap Penegakan Hukum dan HAM di Indonesia

Joe Biden baru saja terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-46 dan membawa angin segar bagi dunia internasional, termasuk Indonesi...